- Diposting oleh : ponpesdaruttaklim
- pada tanggal : Minggu, September 14, 2025
MI Darut Ta'lim adalah lembaga pendidikan dasar formal yang mengintegrasikan kurikulum nasional dengan kurikulum pesantren. Melalui pendekatan holistik, MI Darut Ta'lim tidak hanya mengembangkan aspek akademik siswa, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keislaman yang kuat. Salah satu program unggulannya adalah pembinaan cinta Al-Qur’an melalui kegiatan tahfidz Juz ‘Amma, sebagai fondasi akhlak dan spiritualitas sejak dini. MI Darut Ta'lim berkomitmen mencetak generasi Qur’ani yang cerdas, berakhlak, dan berdaya saing tinggi di era modern.
Sekilas
Sejarah Berdiri dan perkembangan MI DARUT TA’LIM
Madrasah merupakan salah satu lembaga pendidikan
Islam, yang memiliki kiprah panjang dalam dunia pendidikan di Indonesia.
Pendidikan madrasah merupakan bagian dari pendidikan nasional yang memiliki
kontribusi sangat besar dalam pembangunan pendidikan nasional terlebih
kebijakan-kebijakan pendidikan nasional. Madrasah telah memberikan sumbangan
yang sangat signifikan dalam proses pencerdasan masyarakat dan bangsa,
khususnya dalam konteks perluasan akses dan pemerataan pendidikan. Dengan biaya
yang relatif murah dan distribusi lembaga yang menjangkau daerah-daerah
terpencil, madrasah membuka akses atau kesempatan yang lebih bagi masyarakat
miskin dan marginal untuk mendapatkan pelayanan pendidikan.
Madrasah Ibtidaiyah Darut Ta’lim secara yuridis berdiri
pada tahun 1997 setelah Departemen Agama Kota Surabaya (Sebutan
Kemenag dulu) mengeluarkan surat izin operasionalnya . Sebelum menjadi
MI, Madrasah ini adalah Pondok Pesantren dengan sistem Klasikal yang berdiri
pada tahun 1995 di bawah naungan yayasan Darut Ta’lim. Selain mendirikan
Madrasah Ibtidaiyah yayasan Darut Ta’lim juga mendirikan RA (Raudlatul Athfal),
PKPPS (Pendidikan Kesetaraan Pondok Pesantren Salafiyah) Wustho, PKPPS Ulya,
Madrasah Diniyyah Takmiliyah, TPQ An-Nabilah dimana lokasi lembaga pendidikan
tersebut berada dalam satu atap.
Sejarah pertumbuhan dan perkembangan MI Darut
Ta’lim pada awal berdirinya hampir sama dengan beberapa sejarah
perkembangan madrasah pada umumnya di Indonesia dimana tidak dapat dipisahkan
dari perkembangan aspek kehidupan masyarakatnya, yaitu
dilatarbelakangi oleh keinginan untuk lebih mengembangkan ilmu agama
sebagai prioritas dan didukung dengan ilmu pengetahuan umum dikalangan umat Islam pada umumnya dan masyarakat di
wilayah Bulak Banteng pada khusunya.
Secara historis berdirinya madrasah ibtidaiyah yang
berada di bawah naungan yayasan Darut Ta’lim dilatar belakangi oleh keinginan
pendiri Yayasan KH M Syamsul Arifin, ZE Bersama Istri beliau yakni Ibu Nyai Hj
Tubibah untuk mengembangkan dakwah dan syiar agama Islam serta
internalisasi dan transformasi nilai-nilai Islam ala pesantren Ahlus Sunnah wal
Jamaah pada masyarakat di mana lembaga tersebut berdiri. Pada awal mula
madrasah memakai kurikulum pesantren saja yang terdiri dari materi agama berupa
kitab-kitab kuning salafussolih, namun seiring perkembangan zaman dan
kehendak masyarakat untuk mendapatkan ijazah agar bias melanjutkan ke jenjang
berikutnya dan diterima di Lembaga Pendidikan manapun. Dengan segenap usaha dan
upaya yang dilakukan, keberadaan MI Darut Ta’lim selama beberapa
tahun memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam usaha
mengembangkan ilmu pengetahuan, akhlak mulia, dan
keterampilan yang sesuai dengan tujuan berdirinya yayasan ini yaitu untuk
memperdalam ilmu pengetahuan agama ( tafaqquh fiddin) berwawasan ahlus sunnah
wal jamaah, ilmu pengetahuan umum ( al-ulum al’ammah ), akhlak mulia (
akhlakul karimah ), serta ketrampilan bagi seluruh peserta didik yang menimba
ilmu di seluruh lembaga pendidikan di bawah naungan yayasan Darut Ta’lim.
Berikut periodesasi MI
Darut Ta’lim
·
1997-2005 : Masa
pendirian, pembangunan yang diprakarsai langsung oleh KH M Syamsul Arifin,
Adapun kepala MI Darut Ta’lim pertama kali adalah H. M. Hafi, S.Ag dengan masa
jabatan yang tidak singkat, beliau memiliki peran penting dalam peletakan
pertama Ijin Operasional MI Darut Ta’lim
·
2007-2017 : Kepala Madrasah periode ini dibawah Pundak putri
pertama pendiri yakni Neng Tsuroyya Alawiyah, S.Pd.I, beliau sangat berperan
aktif dalam memodernisasi manajemen madrasah, di masa beliau, menerapkan
perdana kalender Pendidikan MI sesuai DEPAG (Departemen Agama), penerapan
pertama kali sepatu bagi siswa-siswi, kedisiplinan yang dijunjung tinggi,
program yang inovatif serta mengikuti Pendidikan yang sesuai dengan kurikulum
yang berlaku saat itu tanpa meninggalkan ciri khas pesantren yang telah menjadi
pondasi, hal itu menjadi faktor penyebab meningkatnya minat masyarakat semakin
tinggi dari tahun ke tahun untuk menitipkan putra-putrinya menimba ilmu di MI Darut
Ta’lim
·
2018-sekarang :
Jabatan Kepala Madrasah dilanjutkan oleh Neng Fitriyah Cholishoh, S.HI, M.Pd.
merupakan putri kedua pendiri, di masa beliau perubahan-perubahan positif terus
digalakkan, peningkatan kualitas pendidik menjadi ciri khas kebijakannya karena
prinsip beliau, penentu mutu KBM bukanlah tergantung dari sekolah elit, sarana
prasarana yang memadai ataupun lainnya, melainkan KBM yang bermutu adalah KBM
yang sangat memperhatikan kualitas guru dalam penguasaan ilmu pengetahuan
sehingga benar-benar siap saat memberikan materi kepada siswa-siswi, maka guru
harus terus menjadi sosok yang layak digugu dan ditiru, role model, uswah
hasanah yang membawa perubahan pada peserta didiknya. Pada era ini guru
tiap tahun selalu mendapatkan seminar, pelatihan, bimtek atau workshop untuk
selalu meningkatkan kompetensi guru, program Tahfidz Juz Amma yang menjadi
program unggulan di MI terus diistiqomahkan sehingga prestasi demi prestasi
diraih hingga tingkat Kota.
MI Darut Ta’lim dibawah naungan Yayasan mampu terus
berkembang pesat tidak terlepas dari doa dan ikhtiar Ibu Nyai, beliau yang
memiliki karakter Tegas, Disiplin dan Idealis tinggi tiap hari mengajak
siswa-siswi MI untuk membaca Yasin yang beliau pimpin sendiri, kegiatan ini
sempat berhenti di masa pandemi seperti saat ini, beliau memberi pesan kepada
santri-santrinya untuk selalu membaca Yasin baik siang dan malam hingga selalu
dijaga dari hal-hal yang buruk. Tidak
hanya pengajian Suroh Yasin saja yang menjadi amaliah rutin, terdapat amaliah
lain seperti Rotibul Haddad ba’da Shubuh, Khotmil Qur’an, Surah Al Kahfi di
hari jum’at, Sholat Tasbih dll.
