- Diposting oleh : ponpesdaruttaklim
- pada tanggal : Sabtu, September 13, 2025
🕌 Profil Yayasan Darut Ta’lim Surabaya
📜 Sejarah
Pondok Pesantren Darut Ta’lim tidak dapat dilepaskan dari
perjalanan kehidupan K.H. Syamsul Arifin,Lc. sebagai peletak batu
pertama pondok pesantren Darut Ta’lim. Masa kecilnya diasuh ayahnya sendiri
yaitu KH. Zamahsyari di Pondok Pesantren Taswirul Afkar. Aktifitas menuntut
ilmu kemudian dilanjutkan K.H. Syamsul Arifin ZE. Beliau terasa dahaga terhadap
ilmu maka kemudian melnjutkan di Pondok pesantren tebuireng di Cukir yang masih
diasuh oleh KH. Idris Kamali. Di pondok inilah nampaknya beliau menuntut ilmu
lebih lama dibandingkan dengan tempat-tempat sebelumnya beliau belajar, dan
pengalaman pertamanya menunaikan ibadah haji dilaksanakan juga sewaktu belajar
di pondok pesantren Tebuireng ini saat mendapatkan biasiswa untuk melanjutkan
jenjang perguruan tinggi empat tahun selama di Makkah.
Setelah menimba ilmu dengan pertimbangan dan kematangan
ilmu sepulangnya K.H Syamsul
Arifin belajar dari makkah, beliau
mengabdi
mengajar
lagi dipondok pesantren tebuireng selama 2 tahun. Kemudian beliau kembali
kekampungnya untuk mengamalkan ilmunya Aktifitas mengajar dan sebagai aplikasi
konkrit pengamalan ilmunya baru dirintis pada tahun 1995 dengan menyelenggarakan kegiatan mengajar Al-Qur'an, tulis
menulis huruf arab, cara beribadah dan sebagainya kepada anak-anak di musholla.
Waktu belajar relatif singkat, yakni dimulai setelah sholat Ashar sampai denga
menjelang sholat Isya'. Jumlah murid K.H. Syamsul Arifin pada waktu itu tidak
lebih dari 5 Santri yang notabene berasal dari lingkungan desa Bulak Banteng
saja dan dalam waktu yang cukup singkat ketertarikan anak-anak dari desa
sekitar untuk ikut belajar sehingga menambah jumlah peserta didik K.H Syamsul
Arifin. tidak kurang menjadi 15 Santri. Melihat semangat anak-anak untuk
belajar kepada K.H Syamsul Arifin berdampak positif pada golongan orang tua
yang juga tertarik untuk bergabung belajar kepada K.H Syamsul Arifin ZE.
Dengan berbagai pertimbangan pada tahun 1996 K.H Syamsul Arifin
memutuskan untuk mengajak warga sekitar dan murid-muridnya untuk membuka
pengajian untuk umum pertama kalinya di musholla. Legalitas paternalistic nampaknya begitu dipahami oleh K.H Syamsul
Arifin, sehingga beliau mengundang orang yang cukup terpandang
di kota Surabaya yaitu K.H. Nawawi untuk hadir dalam sholat jum'at yang
pertama itu untuk kemudian dimohon memberikan tausiyah kepada para jama'ah.
Melihat Realitas demikian mendorong K.H Syamsul Arifin dan tokoh agama
sementara musholla selanjutnya dialih fungsikan hanya sekedar untuk belajar dan
tempat tinggal santri. Kegiatan
belajar masih tetap seperti semula yaitu weton dan sorogan yang diasuh langsung
oleh K.H Syamsul Arifin sendiri. Aktifitas belajar-mengajar dan tradisi
pesantren yang masih sederhana inilah yang kemudian menjadi cikal bakal pondok
pesantren Darut Ta’lim Kenjeran.
Pada awal tahun 1997 benih-benih pengelolaan pesantren semakin tumbuh
dengan membuka Madrasah Diniyyah khusus diperuntukkan bagi anak putra yang
waktu belajarnya sore hari direncanakan berlangsung selama tiga tahun. Kebijakan
demikian menjadi bukti historis bahwa pondok pesantren
Darut Ta’lim sejak awal berdirinya berupaya menyesuaikan diri dengan
perkembangan dunia modern, tanpa meninggalkan identitas pesantren sebagai
lembaga pendidikan Islam.
Peningkatan kepercayaan masyarakat kepada pondok pesnatren Darut Ta’lim
yang semakin bertambah sebagai lembaga pendidikan Islam yang mampu memberikan
pendampingan keilmuan kepada generasi muda terbukti dengan semakin bertambahnya
santri atau peserta didik yang datang dari dalam maupun luar daerah. Jumlah
santri yang begitu besar
🎯 Visi &
Tujuan
Visi:
“Liyatafaqqohu Fiddiin wa Liyundziru Qoumahum”
(Agar mereka memahami agama dan memberikan bimbingan kepada masyarakat)
Tujuan:
- Membentuk
santri yang faqih, berakhlak karimah, dan mampu mengabdi di tengah
masyarakat.
- Mewujudkan
pondok pesantren sebagai pusat pendidikan agama dan pembinaan sosial umat.
📚 Sistem Pendidikan
Darut Ta’lim menerapkan pendidikan terpadu antara formal dan
non-formal.
Unit Pendidikan:
- RA (Raudhatul
Athfal)
- MI (Madrasah
Ibtidaiyah)
- MTs Salafiyyah
Syafi’iyyah
- Madrasah
Diniyah (Setara MTs & MA, Program 3 tahun)
- Pondok Pesantren
Putra dan Putri
Materi Kitab Kuning:
- MI/MTs:
Al-Ajurumiyah, Mabadi’ Fiqhiyah, Ta’limul Muta’allim, Tafsir Jalalain,
Fathul Qorib
- MA: Arbain
Nawawi, Riyadhus Sholihin, Rahmatul Ummah, Qurrotul Uyun, Bulughul Maram,
dll
🧑🏫 Metode Pengajaran
1. Sorogan
Santri belajar satu per satu kepada guru, membawa kitab sendiri dan diminta
membaca serta memaknai. Guru membimbing secara langsung dan intensif.
2. Bandongan / Weton
Guru membaca dan menerangkan kitab di hadapan sekelompok santri dengan
penjelasan bahasa Jawa dan Indonesia, mirip sistem halaqah.
📅 Program Kegiatan
Santri
🔄 Kegiatan Harian
- Sekolah formal
dan diniyah
- Muhadharah
(latihan pidato)
- Pengajian
Al-Qur’an dan kitab
- Diskusi ilmiah
📆 Kegiatan Mingguan
- Latihan
khitobah / pidato
- Qira’ah dan
Hisdar
- Istighosah,
Diba’iyah, Hadrah Banjari
🗓️ Kegiatan Bulanan
- Bahtsul Masail
- Khotmil Qur’an
- Setoran Hafalan
🎉 Kegiatan Tahunan
- Peringatan haul
KH. Syamsul Arifin ZE
- Haflah
Akhirussanah
- Peringatan Hari
Besar Islam & Nasional
👥 Jumlah Santri &
Pengajar
Saat ini, Pondok Pesantren Darut Ta’lim santri dari berbagai
daerah, dibimbing oleh asatidz dan ustadzat yang berkompeten di
bidangnya.
💬 Penutup
Yayasan Pendidikan
Islam Darut Ta’lim terus berbenah dan berupaya menghadirkan pendidikan Islam
yang berkualitas, berbasis tradisi, namun tetap menjawab tantangan zaman.
Dengan semangat keikhlasan dan perjuangan dari para pengasuh, pengajar, alumni,
dan wali santri, insyaAllah cita-cita mencetak generasi Qur'ani yang membangun
masyarakat akan terwujud
