Skip to Content
Loading...
Fitriyah Cholishoh
Fitriyah Cholishoh
Online
Assalamualaikum, saya mau tanya👋
Ada yang bisa dibantu?

Dari Kitab ke Konten: Urgensi Media Online MADAD di Era Digital

Di era ketika wacana keislaman diproduksi dan disebarkan secara masif melalui ruang digital, media berbasis pesantren seperti MADAD tidak cukup hanya mengandalkan forum-forum offline, halaqah, atau bahtsul masail konvensional.

Pertarungan gagasan hari ini berlangsung di layar, bukan hanya di mimbar. Jika ruang itu tidak diisi oleh narasi Ahlussunnah wal Jama’ah, maka ia akan diisi oleh ideologi lain yang belum tentu sejalan dengan manhaj Aswaja.

Media online bukan hanya soal “publikasi”, tetapi tentang hegemoni wacana. Dalam istilah sederhana: siapa yang menguasai narasi, dia yang memengaruhi arah berpikir umat.

Bagi MADAD, media online bisa menjadi tiga hal strategis sekaligus:

Pertama, sebagai laboratorium keilmuan.

Di sinilah kader-kader alumni dilatih menulis, berpikir sistematis, dan mengartikulasikan pemikiran Aswaja dalam bahasa yang kontekstual. Tradisi kitab kuning harus diterjemahkan ke dalam bahasa publik—tanpa kehilangan kedalaman, tapi juga tanpa terjebak dalam eksklusivitas istilah.

Kedua, sebagai benteng ideologi.

Di tengah maraknya konten keagamaan instan yang seringkali simplistik bahkan provokatif, media MADAD dapat menjadi rujukan otoritatif berbasis sanad keilmuan pesantren. Ini penting untuk menjaga kemurnian manhaj Aswaja ala Nahdlatul Ulama yang tawassuth, tawazun, i’tidal, dan tasamuh.

Ketiga, sebagai alat konsolidasi gerakan. Media bukan hanya menyampaikan gagasan, tapi juga menghubungkan jejaring alumni, menguatkan identitas kolektif, dan menggerakkan program. Dalam konteks ini, media menjadi “urat nadi” organisasi, bukan sekadar etalase.

Namun ada satu catatan penting:

Membuat media itu mudah. Menjaganya tetap hidup, berkualitas, dan berpengaruh itu yang sulit. Karena itu, jika MADAD serius, maka media online tersebut harus dibangun dengan konsep yang matang:

Positioning jelas: media keilmuan Aswaja, bukan sekadar berita biasa

Standar editorial kuat: berbasis dalil, rujukan kitab, dan tradisi ulama Gaya bahasa adaptif: bisa menjangkau Gen Z tanpa kehilangan otoritas

Konsistensi konten: lebih baik sedikit tapi rutin, daripada banyak tapi hilang arah Integrasi platform: website + media sosial (Instagram,

YouTube, TikTok) Kalau tidak dikelola serius, media itu hanya akan menjadi “Kuburan Artikel” ramai di awal, mati perlahan.

Sebaliknya, jika dikelola dengan visi keilmuan dan strategi digital yang tepat, media MADAD bisa menjadi center of influence baru: tempat lahirnya ulama intelektual yang tidak hanya alim di kitab, tapi juga kuat di ruang publik.




Berbagi

Postingan Terkait

Posting Komentar

Konfirmasi Penutupan

Apakah anda yakin ingin menutup pemutaran video ini?