- Diposting oleh : mis.daruttaklim
- pada tanggal : Sabtu, Mei 02, 2026
Di era ketika wacana keislaman diproduksi dan disebarkan secara masif melalui ruang digital, media berbasis pesantren seperti MADAD tidak cukup hanya mengandalkan forum-forum offline, halaqah, atau bahtsul masail konvensional.
Pertarungan
gagasan hari ini berlangsung di layar, bukan hanya di mimbar. Jika ruang itu
tidak diisi oleh narasi Ahlussunnah wal Jama’ah, maka ia akan diisi oleh
ideologi lain yang belum tentu sejalan dengan manhaj Aswaja.
Media
online bukan hanya soal “publikasi”, tetapi tentang hegemoni wacana. Dalam
istilah sederhana: siapa yang menguasai narasi, dia yang memengaruhi arah
berpikir umat.
Bagi MADAD,
media online bisa menjadi tiga hal strategis sekaligus:
Pertama,
sebagai laboratorium keilmuan.
Di sinilah kader-kader alumni
dilatih menulis, berpikir sistematis, dan mengartikulasikan pemikiran Aswaja
dalam bahasa yang kontekstual. Tradisi kitab kuning harus diterjemahkan ke
dalam bahasa publik—tanpa kehilangan kedalaman, tapi juga tanpa terjebak dalam
eksklusivitas istilah.
Kedua,
sebagai benteng ideologi.
Di tengah maraknya konten
keagamaan instan yang seringkali simplistik bahkan provokatif, media MADAD
dapat menjadi rujukan otoritatif berbasis sanad keilmuan pesantren. Ini penting
untuk menjaga kemurnian manhaj Aswaja ala Nahdlatul Ulama yang tawassuth,
tawazun, i’tidal, dan tasamuh.
Ketiga,
sebagai alat konsolidasi gerakan. Media bukan hanya menyampaikan gagasan, tapi
juga menghubungkan jejaring alumni, menguatkan identitas kolektif, dan
menggerakkan program. Dalam konteks ini, media menjadi “urat nadi” organisasi,
bukan sekadar etalase.
Namun
ada satu catatan penting:
Membuat media itu mudah.
Menjaganya tetap hidup, berkualitas, dan berpengaruh itu yang sulit. Karena
itu, jika MADAD serius, maka media online tersebut harus dibangun dengan konsep
yang matang:
Positioning
jelas: media keilmuan Aswaja, bukan sekadar berita biasa
Standar
editorial kuat: berbasis dalil, rujukan kitab, dan tradisi ulama Gaya bahasa
adaptif: bisa menjangkau Gen Z tanpa kehilangan otoritas
Konsistensi
konten: lebih baik sedikit tapi rutin, daripada banyak tapi hilang arah Integrasi
platform: website + media sosial (Instagram,
YouTube,
TikTok) Kalau tidak dikelola serius, media itu hanya akan menjadi “Kuburan
Artikel” ramai di awal, mati perlahan.
Sebaliknya,
jika dikelola dengan visi keilmuan dan strategi digital yang tepat, media MADAD
bisa menjadi center of influence baru: tempat lahirnya ulama intelektual yang
tidak hanya alim di kitab, tapi juga kuat di ruang publik.
