Skip to Content
Loading...
Fitriyah Cholishoh
Fitriyah Cholishoh
Online
Assalamualaikum, saya mau tanya👋
Ada yang bisa dibantu?

Datang Tanpa Apa-Apa, Pergi Tanpa Membawa Apa-Apa, tetapi Diadili atas Segalanya

ويسعى من أجل كل شيء  الإنسان يأتي بلا شيء

ويذهب بلا شيء ويترك كل شيء

ويحاسب على كل شيء

“Manusia datang ke dunia tanpa membawa apa-apa. Lalu ia sibuk mengejar segala sesuatu. Setelah itu ia meninggalkan semuanya. Ia pergi tanpa membawa apa-apa. Namun ia akan dimintai pertanggungjawaban atas semuanya.”

Kalimat hikmah ini sederhana, tetapi sangat dalam maknanya. Ia mengingatkan manusia tentang hakikat hidup yang sering terlupakan di tengah kesibukan dunia.

Ketika lahir ke dunia, manusia datang dalam keadaan kosong. Tidak membawa harta, jabatan, popularitas, ataupun kemewahan. Semua manusia memulai hidup dengan keadaan yang sama: lemah dan tidak memiliki apa-apa.

Namun seiring berjalannya waktu, manusia mulai sibuk mengejar banyak hal. Ada yang mengejar kekayaan, kekuasaan, penghormatan, popularitas, dan berbagai kenikmatan dunia lainnya. Tidak sedikit yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya hanya untuk urusan dunia, seakan-akan hidup di dunia akan berlangsung selamanya.

Padahal dunia hanyalah tempat singgah.

Sehebat apa pun seseorang mengumpulkan harta, pada akhirnya semua akan ditinggalkan. Rumah mewah, kendaraan mahal, jabatan tinggi, bahkan orang-orang yang dicintai pun tidak akan ikut menemani ke liang kubur.

Saat kematian datang, manusia kembali kepada Allah sendirian, sebagaimana dahulu ia datang ke dunia sendirian. Dan bagian paling menyentuh dari hikmah ini terletak pada kalimat terakhir:

ويحاسب على كل شيء

“Dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas semuanya.” Inilah hakikat kehidupan yang sesungguhnya. Manusia memang tidak membawa apa-apa ketika meninggal dunia, tetapi seluruh yang pernah dimiliki selama hidup akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Harta akan ditanya: dari mana diperoleh dan untuk apa digunakan. Jabatan akan ditanya: dipakai untuk amanah atau untuk kezaliman. Ilmu akan ditanya: diamalkan atau hanya menjadi kebanggaan. Umur juga akan ditanya: dihabiskan untuk kebaikan atau hanya untuk kesenangan dunia yang sementara. Karena itu, Islam mengajarkan agar manusia tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidupnya. Dunia cukup berada di tangan, jangan sampai masuk dan menguasai hati.

Seseorang boleh memiliki harta, tetapi jangan sampai hartanya membuatnya lupa kepada Allah. Boleh memiliki jabatan, tetapi jangan sampai kekuasaan menjadikannya sombong dan zalim. Boleh dikenal banyak orang, tetapi jangan sampai kehilangan keikhlasan.

Dalam pandangan para ulama, keberhasilan hidup bukan diukur dari seberapa banyak dunia yang dimiliki, tetapi seberapa besar manfaat yang diberikan kepada sesama serta seberapa siap seseorang menghadapi kehidupan akhirat.

Sebab pada akhirnya, manusia tidak akan dikenang karena kemewahannya, tetapi karena kebaikan dan manfaat yang ditinggalkannya.

Tradisi pesantren sejak dahulu selalu mengajarkan hidup sederhana, ikhlas, dan penuh pengabdian. Santri diajarkan bahwa hidup bukan hanya tentang mencari dunia, tetapi juga mempersiapkan bekal untuk akhirat.

Karena itu, hidup sejatinya bukan tentang siapa yang paling kaya, paling terkenal, atau paling berkuasa. Hidup adalah tentang siapa yang paling siap ketika dipanggil pulang oleh Allah SWT.

Sebab manusia datang tanpa membawa apa-apa, pergi tanpa membawa apa-apa, tetapi akan diadili atas segala sesuatu yang pernah dilakukan selama hidupnya. 






Berbagi

Postingan Terkait

Posting Komentar

Konfirmasi Penutupan

Apakah anda yakin ingin menutup pemutaran video ini?