- Diposting oleh : mis.daruttaklim
- pada tanggal : Kamis, Mei 14, 2026
ويسعى من أجل كل شيء الإنسان يأتي بلا شيء
ويذهب بلا شيء ويترك
كل شيء
ويحاسب على كل شيء
“Manusia datang ke dunia
tanpa membawa apa-apa. Lalu ia sibuk mengejar segala sesuatu. Setelah itu ia
meninggalkan semuanya. Ia pergi tanpa membawa apa-apa. Namun ia akan dimintai
pertanggungjawaban atas semuanya.”
Kalimat hikmah ini
sederhana, tetapi sangat dalam maknanya. Ia mengingatkan manusia tentang
hakikat hidup yang sering terlupakan di tengah kesibukan dunia.
Ketika lahir ke dunia,
manusia datang dalam keadaan kosong. Tidak membawa harta, jabatan, popularitas,
ataupun kemewahan. Semua manusia memulai hidup dengan keadaan yang sama: lemah
dan tidak memiliki apa-apa.
Namun seiring berjalannya
waktu, manusia mulai sibuk mengejar banyak hal. Ada yang mengejar kekayaan,
kekuasaan, penghormatan, popularitas, dan berbagai kenikmatan dunia lainnya.
Tidak sedikit yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya hanya untuk urusan
dunia, seakan-akan hidup di dunia akan berlangsung selamanya.
Padahal dunia hanyalah
tempat singgah.
Sehebat apa pun seseorang
mengumpulkan harta, pada akhirnya semua akan ditinggalkan. Rumah mewah,
kendaraan mahal, jabatan tinggi, bahkan orang-orang yang dicintai pun tidak
akan ikut menemani ke liang kubur.
Saat kematian datang,
manusia kembali kepada Allah sendirian, sebagaimana dahulu ia datang ke dunia
sendirian. Dan bagian paling menyentuh dari hikmah ini terletak pada kalimat
terakhir:
ويحاسب
على كل شيء
“Dan ia
akan dimintai pertanggungjawaban atas semuanya.” Inilah
hakikat kehidupan yang sesungguhnya. Manusia memang tidak membawa
apa-apa ketika meninggal dunia, tetapi seluruh yang pernah dimiliki selama
hidup akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Harta akan ditanya: dari
mana diperoleh dan untuk apa digunakan. Jabatan akan ditanya: dipakai untuk
amanah atau untuk kezaliman. Ilmu akan ditanya: diamalkan atau hanya menjadi
kebanggaan. Umur juga akan ditanya: dihabiskan untuk kebaikan atau hanya untuk
kesenangan dunia yang sementara. Karena itu, Islam mengajarkan agar manusia
tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidupnya. Dunia cukup berada di
tangan, jangan sampai masuk dan menguasai hati.
Seseorang boleh memiliki
harta, tetapi jangan sampai hartanya membuatnya lupa kepada Allah. Boleh
memiliki jabatan, tetapi jangan sampai kekuasaan menjadikannya sombong dan
zalim. Boleh dikenal banyak orang, tetapi jangan sampai kehilangan keikhlasan.
Dalam pandangan para
ulama, keberhasilan hidup bukan diukur dari seberapa banyak dunia yang
dimiliki, tetapi seberapa besar manfaat yang diberikan kepada sesama serta
seberapa siap seseorang menghadapi kehidupan akhirat.
Sebab pada akhirnya,
manusia tidak akan dikenang karena kemewahannya, tetapi karena kebaikan dan
manfaat yang ditinggalkannya.
Tradisi pesantren sejak
dahulu selalu mengajarkan hidup sederhana, ikhlas, dan penuh pengabdian. Santri
diajarkan bahwa hidup bukan hanya tentang mencari dunia, tetapi juga
mempersiapkan bekal untuk akhirat.
Karena itu, hidup
sejatinya bukan tentang siapa yang paling kaya, paling terkenal, atau paling
berkuasa. Hidup adalah tentang siapa yang paling siap ketika dipanggil pulang
oleh Allah SWT.
Sebab manusia datang tanpa membawa apa-apa, pergi tanpa membawa apa-apa, tetapi akan diadili atas segala sesuatu yang pernah dilakukan selama hidupnya.