- Diposting oleh : mis.daruttaklim
- pada tanggal : Kamis, Mei 14, 2026
Ungkapan “kadang Allah suwargo manggone” yang sering dikaitkan dengan KH. Abdurrahman Wahid adalah salah satu ungkapan yang sederhana dalam bunyi, tetapi sangat dalam dalam makna. Banyak orang mendengarnya sebagai humor khas Gus Dur, sebagian lain memahaminya sebagai sindiran sosial, dan tidak sedikit pula yang salah memahami seolah-olah kalimat itu berbicara tentang tempat Allah berada.
Padahal, jika dilihat dari perspektif
hakikat dan tasawuf, ungkapan tersebut justru menyimpan refleksi spiritual yang
sangat mendalam tentang hubungan manusia dengan Tuhan.
Dalam akidah Ahlussunnah wal Jamaah,
Allah SWT Maha Suci dari tempat, arah, ruang, dan dimensi. Allah tidak berada
di surga maupun di bumi, karena semua tempat adalah makhluk ciptaan-Nya. Para
ulama tauhid sejak dahulu telah menjelaskan bahwa Allah ada tanpa membutuhkan
ruang dan tidak menyerupai apa pun dari ciptaan-Nya.
Karena itu, ungkapan “kadang Allah
suwargo manggone” tentu tidak dimaksudkan untuk menjelaskan lokasi Tuhan
secara literal. Bahasa seperti ini lebih dekat kepada bahasa simbolik para sufi
— bahasa rasa, bahasa isyarat, dan bahasa spiritual yang tidak bisa dipahami
hanya dengan logika lahiriah.
Dalam tradisi tasawuf, para wali dan
ulama sering menggunakan ungkapan sederhana untuk mengguncang kesadaran
manusia. Kadang mereka berbicara dengan syair, kadang dengan humor, kadang
dengan kalimat yang tampak paradoksal, agar manusia tidak terjebak hanya pada
kulit agama tanpa memahami kedalaman maknanya.
Dan tampaknya, melalui ungkapan itu,
Gus Dur sedang menyentil cara manusia beragama yang terlalu transaksional.
Hari ini banyak manusia mencari Allah
karena ingin surga. Beribadah karena ingin pahala.
Bersedekah karena ingin balasan. Berzikir karena ingin ketenangan pribadi.
Bahkan tidak sedikit yang menggunakan agama demi kepentingan dunia. Agama
akhirnya berubah menjadi transaksi spiritual:“Jika aku beribadah, maka aku
mendapat hadiah.”
Padahal dalam maqom hakikat, tujuan
tertinggi seorang hamba bukanlah surga, melainkan Allah SWT itu sendiri. Inilah
yang sering dilupakan manusia.
Dalam dunia tasawuf, para ulama
menjelaskan bahwa ibadah manusia memiliki tingkatan. Tingkatan pertama adalah
ibadah karena takut neraka. Ini adalah maqom kebanyakan manusia. Mereka
menjauhi dosa karena takut hukuman.
Tingkatan kedua adalah ibadah karena
mengharap surga. Mereka rajin beramal karena menginginkan kenikmatan akhirat. Namun
tingkatan tertinggi adalah ibadah karena cinta kepada Allah. Maqom ini disebut
sebagai mahabbah.
Pada tingkat ini, seorang hamba tidak
lagi menjadikan surga sebagai tujuan utama. Yang dicari adalah ridha Allah dan
kedekatan dengan-Nya. Karena itu para sufi mengatakan: “Orang awam beribadah
karena takut dan berharap. Orang arif beribadah karena cinta.”
Di sinilah letak kedalaman pesan
spiritual yang tampaknya ingin disampaikan Gus Dur. Beliau seolah ingin
mengatakan: “Jangan sampai manusia lebih sibuk mengejar surga daripada mengenal
Allah.” Sebab surga hanyalah ciptaan, sedangkan Allah adalah Sang Pencipta.
Surga memang indah, tetapi ridha Allah
jauh lebih agung daripada seluruh kenikmatan surga itu sendiri.Al-Qur’an bahkan
menegaskan:“Dan keridhaan Allah itu lebih besar.” (QS. At-Taubah: 72) Ayat ini
menunjukkan bahwa puncak kenikmatan bukan sekadar sungai-sungai surga,
bidadari, atau istana akhirat, tetapi ketika seorang hamba mendapatkan ridha
dan kedekatan dengan Allah SWT.
Dalam perspektif hakikat, orang yang
mulai mengenal Allah akan mengalami perubahan besar dalam cara memandang hidup.
Ia tidak lagi beribadah sekadar menggugurkan kewajiban.
Ia mulai merasakan ibadah sebagai kebutuhan ruhani.
Shalat bukan lagi sekadar gerakan
tubuh, tetapi pertemuan jiwa dengan Tuhan.
Dzikir bukan lagi hanya ucapan lisan, tetapi kerinduan hati kepada Allah.
Air mata taubat bukan lagi karena takut hukuman, tetapi karena merasa jauh
dari-Nya.
Inilah yang disebut para ulama sebagai
perjalanan dari syariat menuju hakikat. Dalam tradisi tasawuf dikenal empat
tingkatan perjalanan ruhani:syariat,tarekat,hakikat,dan ma’rifat.
Syariat adalah menjalankan aturan
agama secara lahiriah Tarekat adalah latihan spiritual untuk membersihkan jiwa.Hakikat
adalah terbukanya kesadaran batin tentang makna terdalam kehidupan.Sedangkan
ma’rifat adalah keadaan ketika hati benar-benar mengenal Allah dengan cinta dan
kedekatan ruhani.
Pada maqom hakikat, seorang hamba
mulai memahami bahwa dunia hanyalah bayangan sementara. Harta tidak lagi
membuatnya sombong. Jabatan tidak lagi membuatnya mabuk kekuasaan. Popularitas
tidak lagi menjadi tujuan hidup. Karena hatinya mulai dipenuhi kesadaran bahwa
semua selain Allah hanyalah fana.
Maka para wali dan orang-orang saleh
sering tampak sederhana. Mereka tidak sibuk mengejar kemewahan dunia, karena
mereka telah menemukan ketenangan yang lebih besar di dalam kedekatan dengan
Allah.
Orang yang telah merasakan manisnya
ma’rifat tidak lagi terlalu sibuk dipuji manusia. Bahkan kadang mereka lebih
memilih hidup biasa dan tersembunyi daripada terkenal.
Sebab yang mereka cari bukan pandangan
manusia, tetapi pandangan Allah.
Di sinilah hakikat zuhud yang sering
disalahpahami. Zuhud bukan berarti membenci dunia atau meninggalkan kehidupan.
Zuhud adalah ketika dunia tidak lagi menguasai hati. Seseorang boleh kaya,
tetapi hatinya tetap sederhana. Boleh memiliki jabatan, tetapi jiwanya tetap
rendah hati.
Boleh hidup di tengah dunia, tetapi hatinya tetap dekat kepada Allah.
Dan tampaknya, pesan seperti inilah
yang sering disampaikan Gus Dur melalui humor-humor dan ungkapan khasnya.
Beliau melihat banyak orang terlalu
sibuk membicarakan surga dan neraka, tetapi lupa memperbaiki akhlak. Mudah
menghakimi orang lain, tetapi sulit mengoreksi dirinya sendiri.
Rajin menampilkan simbol agama, tetapi kehilangan kasih sayang dan kemanusiaan.
Padahal dalam tradisi pesantren,
ukuran kedalaman agama bukan hanya banyaknya ibadah ritual, tetapi juga
kelembutan hati dan keluasan kasih sayang.
Orang yang dekat kepada Allah akan
semakin rendah hati.Semakin lembut lisannya. Semakin menghormati manusia. Semakin
jauh dari kebencian dan kesombongan. Karena semakin mengenal Allah, semakin
sadar bahwa dirinya hanyalah hamba yang penuh kekurangan.
Inilah sebabnya para ulama besar
sering tampak sangat santun dan penuh kasih kepada manusia. Mereka memahami
bahwa inti agama bukan sekadar hukum dan simbol, tetapi juga cinta dan
kemanusiaan.
Maka ungkapan “kadang Allah suwargo
manggone” dalam perspektif hakikat dapat dipahami sebagai kritik halus
terhadap manusia yang terlalu sibuk mengejar “hadiah”, tetapi lupa kepada Sang
Pemberi hadiah.
Padahal cinta sejati kepada Allah
tidak lahir karena surga ataupun neraka, tetapi karena kesadaran bahwa seluruh
hidup berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya.
Ketika cinta kepada Allah telah
memenuhi hati, maka ibadah tidak lagi terasa berat.Agama tidak lagi menjadi
beban.Dzikir menjadi ketenangan. Shalat menjadi kerinduan.Dan hidup menjadi
perjalanan pulang menuju Allah SWT.
Sebab pada akhirnya, perjalanan
spiritual tertinggi bukanlah sekadar menuju surga, tetapi menuju kedekatan
dengan Allah Yang Maha Mencintai hamba-hamba-Nya.