Skip to Content
Loading...
Fitriyah Cholishoh
Fitriyah Cholishoh
Online
Assalamualaikum, saya mau tanya👋
Ada yang bisa dibantu?

Memahami Syair Gus Dur: “Kadang Allah Suwargo Manggone” dalam Perspektif Hakikat dan Tasawuf

 Ungkapan “kadang Allah suwargo manggone” yang sering dikaitkan dengan KH. Abdurrahman Wahid adalah salah satu ungkapan yang sederhana dalam bunyi, tetapi sangat dalam dalam makna. Banyak orang mendengarnya sebagai humor khas Gus Dur, sebagian lain memahaminya sebagai sindiran sosial, dan tidak sedikit pula yang salah memahami seolah-olah kalimat itu berbicara tentang tempat Allah berada.

Padahal, jika dilihat dari perspektif hakikat dan tasawuf, ungkapan tersebut justru menyimpan refleksi spiritual yang sangat mendalam tentang hubungan manusia dengan Tuhan.

Dalam akidah Ahlussunnah wal Jamaah, Allah SWT Maha Suci dari tempat, arah, ruang, dan dimensi. Allah tidak berada di surga maupun di bumi, karena semua tempat adalah makhluk ciptaan-Nya. Para ulama tauhid sejak dahulu telah menjelaskan bahwa Allah ada tanpa membutuhkan ruang dan tidak menyerupai apa pun dari ciptaan-Nya.

Karena itu, ungkapan “kadang Allah suwargo manggone” tentu tidak dimaksudkan untuk menjelaskan lokasi Tuhan secara literal. Bahasa seperti ini lebih dekat kepada bahasa simbolik para sufi — bahasa rasa, bahasa isyarat, dan bahasa spiritual yang tidak bisa dipahami hanya dengan logika lahiriah.

Dalam tradisi tasawuf, para wali dan ulama sering menggunakan ungkapan sederhana untuk mengguncang kesadaran manusia. Kadang mereka berbicara dengan syair, kadang dengan humor, kadang dengan kalimat yang tampak paradoksal, agar manusia tidak terjebak hanya pada kulit agama tanpa memahami kedalaman maknanya.

Dan tampaknya, melalui ungkapan itu, Gus Dur sedang menyentil cara manusia beragama yang terlalu transaksional.

Hari ini banyak manusia mencari Allah karena ingin surga. Beribadah karena ingin pahala.
Bersedekah karena ingin balasan. Berzikir karena ingin ketenangan pribadi.
Bahkan tidak sedikit yang menggunakan agama demi kepentingan dunia. Agama akhirnya berubah menjadi transaksi spiritual:“Jika aku beribadah, maka aku mendapat hadiah.”

Padahal dalam maqom hakikat, tujuan tertinggi seorang hamba bukanlah surga, melainkan Allah SWT itu sendiri. Inilah yang sering dilupakan manusia.

Dalam dunia tasawuf, para ulama menjelaskan bahwa ibadah manusia memiliki tingkatan. Tingkatan pertama adalah ibadah karena takut neraka. Ini adalah maqom kebanyakan manusia. Mereka menjauhi dosa karena takut hukuman.

Tingkatan kedua adalah ibadah karena mengharap surga. Mereka rajin beramal karena menginginkan kenikmatan akhirat. Namun tingkatan tertinggi adalah ibadah karena cinta kepada Allah. Maqom ini disebut sebagai mahabbah.

Pada tingkat ini, seorang hamba tidak lagi menjadikan surga sebagai tujuan utama. Yang dicari adalah ridha Allah dan kedekatan dengan-Nya. Karena itu para sufi mengatakan: “Orang awam beribadah karena takut dan berharap. Orang arif beribadah karena cinta.”

Di sinilah letak kedalaman pesan spiritual yang tampaknya ingin disampaikan Gus Dur. Beliau seolah ingin mengatakan: “Jangan sampai manusia lebih sibuk mengejar surga daripada mengenal Allah.” Sebab surga hanyalah ciptaan, sedangkan Allah adalah Sang Pencipta.

Surga memang indah, tetapi ridha Allah jauh lebih agung daripada seluruh kenikmatan surga itu sendiri.Al-Qur’an bahkan menegaskan:“Dan keridhaan Allah itu lebih besar.” (QS. At-Taubah: 72) Ayat ini menunjukkan bahwa puncak kenikmatan bukan sekadar sungai-sungai surga, bidadari, atau istana akhirat, tetapi ketika seorang hamba mendapatkan ridha dan kedekatan dengan Allah SWT.

Dalam perspektif hakikat, orang yang mulai mengenal Allah akan mengalami perubahan besar dalam cara memandang hidup. Ia tidak lagi beribadah sekadar menggugurkan kewajiban.
Ia mulai merasakan ibadah sebagai kebutuhan ruhani.

Shalat bukan lagi sekadar gerakan tubuh, tetapi pertemuan jiwa dengan Tuhan.
Dzikir bukan lagi hanya ucapan lisan, tetapi kerinduan hati kepada Allah.
Air mata taubat bukan lagi karena takut hukuman, tetapi karena merasa jauh dari-Nya.

Inilah yang disebut para ulama sebagai perjalanan dari syariat menuju hakikat. Dalam tradisi tasawuf dikenal empat tingkatan perjalanan ruhani:syariat,tarekat,hakikat,dan ma’rifat.

Syariat adalah menjalankan aturan agama secara lahiriah Tarekat adalah latihan spiritual untuk membersihkan jiwa.Hakikat adalah terbukanya kesadaran batin tentang makna terdalam kehidupan.Sedangkan ma’rifat adalah keadaan ketika hati benar-benar mengenal Allah dengan cinta dan kedekatan ruhani.

Pada maqom hakikat, seorang hamba mulai memahami bahwa dunia hanyalah bayangan sementara. Harta tidak lagi membuatnya sombong. Jabatan tidak lagi membuatnya mabuk kekuasaan. Popularitas tidak lagi menjadi tujuan hidup. Karena hatinya mulai dipenuhi kesadaran bahwa semua selain Allah hanyalah fana.

Maka para wali dan orang-orang saleh sering tampak sederhana. Mereka tidak sibuk mengejar kemewahan dunia, karena mereka telah menemukan ketenangan yang lebih besar di dalam kedekatan dengan Allah.

Orang yang telah merasakan manisnya ma’rifat tidak lagi terlalu sibuk dipuji manusia. Bahkan kadang mereka lebih memilih hidup biasa dan tersembunyi daripada terkenal.

Sebab yang mereka cari bukan pandangan manusia, tetapi pandangan Allah.

Di sinilah hakikat zuhud yang sering disalahpahami. Zuhud bukan berarti membenci dunia atau meninggalkan kehidupan. Zuhud adalah ketika dunia tidak lagi menguasai hati. Seseorang boleh kaya, tetapi hatinya tetap sederhana. Boleh memiliki jabatan, tetapi jiwanya tetap rendah hati.
Boleh hidup di tengah dunia, tetapi hatinya tetap dekat kepada Allah.

Dan tampaknya, pesan seperti inilah yang sering disampaikan Gus Dur melalui humor-humor dan ungkapan khasnya.

Beliau melihat banyak orang terlalu sibuk membicarakan surga dan neraka, tetapi lupa memperbaiki akhlak. Mudah menghakimi orang lain, tetapi sulit mengoreksi dirinya sendiri.
Rajin menampilkan simbol agama, tetapi kehilangan kasih sayang dan kemanusiaan.

Padahal dalam tradisi pesantren, ukuran kedalaman agama bukan hanya banyaknya ibadah ritual, tetapi juga kelembutan hati dan keluasan kasih sayang.

Orang yang dekat kepada Allah akan semakin rendah hati.Semakin lembut lisannya. Semakin menghormati manusia. Semakin jauh dari kebencian dan kesombongan. Karena semakin mengenal Allah, semakin sadar bahwa dirinya hanyalah hamba yang penuh kekurangan.

Inilah sebabnya para ulama besar sering tampak sangat santun dan penuh kasih kepada manusia. Mereka memahami bahwa inti agama bukan sekadar hukum dan simbol, tetapi juga cinta dan kemanusiaan.

Maka ungkapan “kadang Allah suwargo manggone” dalam perspektif hakikat dapat dipahami sebagai kritik halus terhadap manusia yang terlalu sibuk mengejar “hadiah”, tetapi lupa kepada Sang Pemberi hadiah.

Padahal cinta sejati kepada Allah tidak lahir karena surga ataupun neraka, tetapi karena kesadaran bahwa seluruh hidup berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya.

Ketika cinta kepada Allah telah memenuhi hati, maka ibadah tidak lagi terasa berat.Agama tidak lagi menjadi beban.Dzikir menjadi ketenangan. Shalat menjadi kerinduan.Dan hidup menjadi perjalanan pulang menuju Allah SWT.

Sebab pada akhirnya, perjalanan spiritual tertinggi bukanlah sekadar menuju surga, tetapi menuju kedekatan dengan Allah Yang Maha Mencintai hamba-hamba-Nya.






Berbagi

Postingan Terkait

Posting Komentar

Konfirmasi Penutupan

Apakah anda yakin ingin menutup pemutaran video ini?